Menyikapi istri yang tidak taat kepada suami


ace-maxPertanyaan:

Bagaimanakh seharusnya sikap saya terhadap istri saya, jika ia:


1. Sering keluar rumah/nginap ke tempat keluarga tanpa izin saya.
2. Tidak terlalu menghargai pendapat saya.
3. Menolak untuk melakukan ketaatan kepada Allah, seperti sholat tepat waktu, sholat berjamaah (selama ini istri saya sholat sendirian/munfarid), sholat tahajud.
4. Suka menginap ketempat orangtunya bahkan jika tidak saya izinkan (sebab terlalu sering)
5. Suka membeli barang-barang yang tidak terlalu diperlukan.

Mohon Penjelasannya.

nu*****mah4**@yahoo.co.id

Jawaban Admin :

Bismillaah,

Hal pertama yang harus di fahami oleh seorang suami adalah, ketaatan istri mutlak harus dilaksanakan tatkala berkaitan dengan perkara yang dibenarkan oleh agama, dan tidak ada ketaatan didalam hal perintah yang mana itu mengandung unsur maksiat kepada Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَةٍ ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوفِ

Tidak ada ketaatan dalam melakukan maksiat. Sesungguhnya ketaatan hanya dalam melakukan kebajikan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Berkaitan dengan pertanyaan penanya diatas, maka kami jawab :

1. Jika seorang istri bepergian keluar rumah, maka ada 2 kategori izin yang harus dilakukan,yaitu :

a. Izin umum, semisal bepergian karena ada hajat ke pasar, belanja, dan yang lainnya, maka untuk hal ini dia tetap harus meminta izin, dalam artian mungkin bisa via SMS, atau dilihat dari kebutuhan umum yang meski tanpa izin suami sudah lazim akan mengizinkannya.

b. Izin khusus, semisal untuk safar, bepergian untuk menginap di rumah orang tuanya, maka ini jelas wajib untuk meminta keridha-an suami, dan jika suami tak meridhainya, maka si istri berdosa. Akan tetapi, suami pun mesti berlapang dada , berusaha mengerti jika sang istri meminta izin untuk bercengkrama dengan orang tua dan kerabat mereka, barangkali mereka jenuh dirumah, atau ada kebutuhan melepas rindu, dan yang lain sebagainya, akan tetapi hal ini tentu dilihat juga porsinya, jika semata mata tidak ada kebutuhan khusus dan sering dilakukan maka ini menjadi kurang baik pula, intinya, suami dan istri haruslah memahami, mungkin jika dirasa dalam frekuensi 1 pekan sekali, atau 1 bulan sekali dianggap wajar, maka tentu tak perlu dipermasalahkan selama tak ada hal2 yang dianggap memberatkan.

2. Untuk permasalahan pada point 2 diatas, maka kita bagi kedalam kategori :

a. Pendapat yang muncul dari eksistensi Allah dan RasulNya, maka ini mutlak harus di ikuti, dengan kata lain, jika suami berpendapat si istri mesti berjilbab, maka tak ada jalan lain bagi sang istri harus mentaatinya.

b. Pendapat yang muncul dari pemikiran semata, dan terkait urusan dunia. Maka untuk hal ini, sang suami pun harus bisa menimbang ulang jika sang istri tak berkenan, solusinya adalah musyawarah, obrolkan, diskusikan, dan masing2 pihak tidak boleh memiliki pemikiran penolakan duluan, jika ada yang tidak sreg, tidak suka, khawatir, maka masing2 pihak bisa mengungkapkan dengan baik, ringkasnya, jalinlah komunikasi yang baik dalam hal ini.

3. Seperti dijelaskan pada point 1 diatas, jika perintahnya adalah perkara yang ma’ruf (dikenal baik oleh agama), maka tak boleh ada penolakan, yang ada ketaatan secara mutlak didalamnya, dan berdosa jika dia mengabaikannya, baik suami atau istri. Untuk shalat berjama’ah, maka wanita tidak wajib, dan tidak wajib harus di masjid, akan tetapi jika mereka ingin ke masjid maka tak boleh kita melarangnya selama mereka memenuhi kewajibannya, yaitu menutup aurat dengan benar.

4. Sudah kami jawab diatas, kuncinya adalah jalin komunikasi yang baik, berbicara baik2 dengannya kalau suami keberatan, dan jangan lupakan bahwa suami juga mesti berusaha mengerti kebutuhan istrinya.

5. Nah point ini memang merupakan permasalahan yang antara suami dan istri seringkali tidak bisa bertemu dan sepakat, terkadang istri menilai penting, suami menilai tidak penting, maka jika tak saling memahami, berusaha saling mengerti, hal seperti ini bisa memicu pertengkaran yang dahsyat, demikian saran dan masukkan kami, karena kami tak mengerti sejauh mana yang dimaksud hal2 yang tak diperlukan, barangnya barang apa, dan bagaimana kebutuhan yang ada.

Mari kita sama sama simak firman Allah dibawah ini :

Allah Ta’ala berfirman:
“Dan mereka (para wanita) memiliki hak seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang pantas. Tetapi para suami mempunyai kelebihan di atas mereka. Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” [QS. Al-Baqarah : 228]

Semoga membantu..

Dijawab Oleh Admin Blog:

Muhammad Yusuf

About Abu Iram Al-Atsary

kumpulan catatan dari akun facebook http://facebook.com/abu.iram

Posted on 27 April 2014, in Konsultasi Keluarga and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tulis Respon Anda Disini :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: