Tidak merasakan nikmat, tapi bisa punya anak?


Pertanyaan :

aq ingin mnanyakan .slama ini hatiku gelisah ,,slama berumah tangga aq blum pernah merasakan apa itu kenikmatan ,tapi aq mempunyai seorang anak ??

— Bunda — 

Jawaban :

Bismillah, Alhamdulillah, washolatu wassalamu ‘ala Rasulillaah ..

Hal yang perlu difahami sebelumnya adalah, bahwa kehamilan tidaklah terkait dengan terjadinya klimaks / orgasme, melainkan terjadinya kesuksesan dalam hal pertemuan antara sperma dan sel telur, sehingga menghasilkan pembuahan dan kemudian menjadi cikal bakal anak, dan seterusnya hingga kehamilan besar dan melahirkan .

Adapun permasalahan seperti diatas adalah terkait dengan masalah teknis saja.  Dengan kata lain tingkat pemahaman seksual kedua belah pihak.

Keadaan tercapainya sebuah orgasme terkait dengan tersentuh atau tidaknya titik pusat rangsangan yang sering orang sebut sebagai G-Spot.. Dan tiap wanita mempunyai G-Spot yang berbeda-beda. Maka untuk suami pandai-pandailah dalam hal mencari G-Spot sang istri.

Dalam beberapa kasus, terkadang suami begitu selesai hajatnya, dia langsung tertidur pulas, dan membiarkan istrinya yang belum meraih “keinginannya” . Dan jika keadaan ini terus berlangsung dan berlarut-larut maka suami berdosa, karena dalam hal ranjang pun suami dan istri memiliki hak dan porsi yang sama dalam mencapai kepuasan / klimaks.

Kasus lainnya adalah karena suami mengidap apa yang disebut dengan ejakulasi dini premature, jelasnya masalah ejakulasi dini premature ini bisa dibaca disini  .

Adapun jika suami masih termasuk kedalam kriteria normal, maka ada trik khusus yaitu istri berperan aktif semisal dengan berposisi diatas diawal melakukan jima, dengan posisi seperti ini istri akan lebih mengekspore kemampuannya dalam mencari titik rangsangannya, sehingga biasanya dalam keadaan normal istri akan mampu orgasme / klimaks dalam waktu lebih cepat, namun tentu saja sebelumnya lakukan dulu foreplay (pemasanan halal) agar “keadaan” menjadi lebih siap, karena pada dasarnya wanita itu butuh waktu untuk “panas” .  Dan suami bisa melanjutkannya pasca istri selesai atas hajatnya.

Semoga bermanfaat…

Dijawab oleh : Abu Iram Al-Atsary

About Abu Iram Al-Atsary

kumpulan catatan dari akun facebook http://facebook.com/abu.iram

Posted on 9 Mei 2012, in Konsultasi Keluarga and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tulis Respon Anda Disini :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: