Bukan dia yang kuharapkan …


Pertanyaan :

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.
Beberapa pekan yang lalu ana telah menikah dengan seorang ikhwan pilihan abi. Sebelum menikah dengannya, ana telah dikenalkan dengan seorang ikhwan yang sedang kuliah di Yordania. Ana sendiri belum pernah bertemu dengannya. Ana hanya mendapat kabar tentang dirinya dari seorang teman. Dan dari kabar yang ana terima, ana simpulkan bahwa kriterianya cocok dengan idaman ana. Teman ana berkali-kali mengatakan bahwa ikhwan itu ingin secepatnya dikenalkan dengan keluarga ana. Seorang yang berpenghasilan tetap, dan insya Allah din-nya baik. Abi sangat menekankan agar ana menerimanya. Dan ana tidak kuasa menolak keinginan abi. Sebelum menikah, ana tidak pernah melihatnya. Maklum, malu. Setelah walimah, suami masuk menemui ana. Masyaallah ustadz, ana sangat terkejut melihat wajahnya dan posturnya. Dia sangat berbeda dengan bayangan ana selama ini. Namun ana tetap berusaha menerimanya dan melayaninya dengan pelayanan yang baik. Ana khawatir ia akan memahami bahwa ana agak canggung berjalan bersamanya.

Yang ingin ana tanyakan:
1. Bolehkan seseorang memaksa diri menikah dengan orang yang tidak ia sukai, karena alasan tidak dapat menolak keinginan orang tua atau buat kemaslahatan bersama?
2. Langkah apa yang harus ana tempuh agar kekhawatiran ana tidak terjadi?
3. Ustadz, ana tidak ingin pernikahan ini berakhir dengan perceraian. Apalagi abi memilihnya karena dirinya agar kelak ia dapat memberikan tarbiyah dan riayah kepada ana. Hal ini yang membuat ana tidak kuasa menolak keinginan abi. Benarkah sikap ana ini ustadz?
4. Apakah salah bila seorang akhwat memilih sendiri calon pasangan hidupnya?
5. Bolehkah seorang akhwat memilih kriteria seorang suami menggabungkan antara ilmu, tampan, dan berpenghasilan?

Ustadz, walau baru beberapa pekan ana menikah, ana telah mendengar suara-suara sumbang dari teman-teman. Namun ana tetap berusaha sabar. Alhamdulillah tidak terlintas niat dalam hati ana untuk menuntut khulu’ (cerai). Ana berusaha ikhlas menerima takdir yang telah Allah tetapkan buat ana. Ana berdoa semoga dia laki-laki terbaik buat ana dan problem ini cepat berlalu.

Namun ana ingin meminta nasihat dari ustadz agar hati ini semakin teguh dan mantap untuk hidup bersamanya. Afwan ya ustadz, kalau risalah ini sangat panjang. Namun ana berharap ustadz berkenan memberikan nasihat dan jawabannya, karena jawaban ustadz ana harapkan dapat menjadi obat dan penawar hati. Serta dapat menghilangkan kerisauan ana selama ini.
Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.
Hamba Allah

Jawab:

Alhamdulillah, washshalatu wassalamu’ala Rosululillah
Menurut pendapat yang rajih (lebih benar), bahwasanya wali tidak mempunyai hak untuk memaksakan kehendak agar anak perempuannya menikah dengan lelaki pilihan walinya bila perempuan itu telah berakal dan dewasa. Wali baik itu bapaknya sendiri atau yang menduduki kedudukannya tidak boleh menikahkannya kecuali dengan izin dan kerelaan perempuan tersebut. Kalau pun wali bersikeras untuk menikahkannya tanpa ada izin dan kerelaan perempuan tersebut dan langsung mengakadnya sendiri, maka pernikahannya di anggap batal. Hal ini berdasarkan beberapa dalil berikut ini:

1. Sabda Nabi, “Janda tidak boleh dinikahkan kecuali dengan persetujuannya, dan perawan tidak boleh dinikahkan kecuali dengan izinnya.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana izinnya?” Beliau bersabda, “Diamnya.” (Riwayat Bukhari dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah). Imam Bukhari memberikan penjelasan terhadap hadits ini dengan ucapannya. Bab Laa yankihu al-Abbu wa ghairuhu al-Bikra wa ats-Tsayyiba illa bi radhaahuma (Bab bapak kandung dan yang lainnya tidak boleh menikahkan seorang perawan dan janda kecuali dengan kerelaan mereka berdua). Ibnu Hajar al-Asqalani menerangkan, hadits ini menunjukkan bila wali tidak boleh memaksanya-perawas-jika ia telah baligh.

2. Nabi bersabda, “Janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya. Perawan diminta izinnya, dan izinnya adalah diamnya.” (Riwayat Muslim dari Ibnu Abbas). Hadits ini juga diriwayatkan Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah, Darimi, dan Baihaqi. Imam Syaukani menegaskan, yang jelas hadits-hadits dalam bab ini menunjukkan kalau anak perempuan yang telah baligh jika dinikahkan tanpa kerelaannya dan izinnya maka akadnya tidak sah. (lihat Nailul Authar VI/123). Jadi, wali tidak mempunyai kekuasaan untuk memaksa menikah atas perawan yang telah baligh, dan ia tidak boleh dinikahkan kecuali dengan izinnya. Oleh karena itu, bila tetap dinikahkan, akad pernikahannya tidak sah.

3. Dari Ibnu Abbas, bahwasanya ada seorang perempuan perawan datang menghadap Nabi, lalu mengadukan kalau bapaknya telah menikahkannya dengan lelaki yang tidak disukainya, maka beliau memberikan pilihan kepadanya.(riwayat Abu Dawud). Di dalam penjelasannya disebutkan “Hadits ini menunjukkan seorang bapak kandung diharamkan memaksa anak perempuannya yang telah dewasa dan berakal untuk menikahkan dengan lelaki yang tidak disukainya. Demikian pula wali yang menduduki kedudukan bapak, tentu terlebih lagi.

Berdasarkan ini, maka tidak boleh seorang perempuan yang telah dewasa menerima paksaan walinya untuk menikah dengan seseorang yang tidak dikehendaki dan tidak disukainya. Karena pernikahan yang demikian itu tidak sah dan tidak boleh dilanjutkan. Sebab hal ini bertentangan dengan larangan yang dilarang syariat. Oleh karena itu umat ini dituntut untuk tidak mencampuradukkan da melakukannya.

Di sisi lain, ketidaktenangan batin seorang perempuan yang dengan terpaksa menerima pernikahan ini bisa menjadi bom waktu yang dapat meledak di kemudian hari. Mungkin sekarang ia bisa mencoba menerima dan berlapang dada. Namun di suatu saat nanti seiring dengan bertumpuknya masalah rumah tangga yang datang silih berganti, semua itu akan dapat menjadi pemicu kehancuran rumah tangga yang tidak dibangun dengan kerelaan hati salah satu pihak dari pihak suami istri. Sehingga hal ini juga berdampak tidak terwujudnya kemaslahatan yang diinginkan.

Di pihak lain, sebenarnya diadakannya wali dalam syariat itu tujuannya adalah untuk mewujudkan kemaslahatan perempuan yang berada di bawah pengampuannya, bukan untuk mencelakakannya dan mengakibatkannya terjerumus dalam bahaya. Seperti dengan menikahkannya secara paksa. Karena itu syari’at melarang pernikahan seperti ini dan menyatakannya tidak sah, dan harus dianulir. Demikianlah prinsipnya.

Dalam pernikahan seorang perempuan, memang wali mempunyai “kewajiban mencarikan” pasangan yang agama dan budi pekertinya bagus. Namun bukan berarti ia tidak boleh menempuh “jalur lain” guna mendapatkan lelaki yang berkriteria semacam itu. Atau, ditambah kriteria lain yang diidamkannya, seperti berpenghasilan mapan, tampan, dan sebagainya. Dan memang ia harus harus memilih, bukan sekadar pasrah. Namun hendaknya dalam memilih ini disertai pertimbangan-pertimbangan lain yang sesuai dengan keadaan diri perempuan tersebut. Jangan sampai karena idealisnya itu mengakibatkannya menunda-nunda pernikahannya dan menjadikannya perawan tua tanpa suami di sisinya. Segala sesuatu sebaiknya menurut kewajaran.

Rasulullah memberikan bimbingan utama agar memilih yang kuat agamanya, karena ia dapat mengantarkan istri kepada kepada kebahagiaan. Adapaun kalau ada kekurangan di sana sini, maka Allah berfirman, “Karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu,padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (an-Nisa’:19)

Jadi kalau seorang perempuan telah mendapatkan seorang lelaki yang disebut Rasulullah sebagai “man tardhauna diinahu wa khuluqahu” (seorang yang bagus agama dan perangainya), maka hendaklah ia tetap bersabar untuk tetap mendampinginya, karena insya Allah kebahagiaan telah bersamanya. Wallahu a’lam bishshawab.(***)

Diambil dari konsultasi keluarga Majalah Nikah Vol. 3 No. 3, Juni 2004

About Abu Iram Al-Atsary

kumpulan catatan dari akun facebook http://facebook.com/abu.iram

Posted on 9 Mei 2012, in Problematika & Solusi masalah keluarga and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tulis Respon Anda Disini :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: